Rabu, 08 Mei 2013

Harapan


Pagi ini saya dijadwalkan mengisi sebuah acara di kampus. Bukan mengajar, tapi memberikan pencerahan kepada 486 an mahasiswa yang siap diwisuda di pertengahan Bulan Mei ini. Kepada para mahasiswa yang siap menjadi alumni ini saya sangat berharap banyak. Salah satu harapan terbesar saya adalah mereka segera menemukan tempat kerja yang pas dengan kompetensi yang mereka miliki dan bisa menjadi pribadi yang mandiri sehingga tidak lagi menyusahkan orang tua.
Acara pemaparan materi pencerahan   berikut sesi tanya jawab  berlangsung selama 90 menit. Dari mulai pembekalan cara berkomunikasi efektif hingga strategi memenangkan kesempatan kerja dan tak lupa diselipkan kata-kata memotivasi sehingga mereka tumbuh keyakinan terhadap diri sendiri. Acara berlangsung santai dan penuh dengan nuansa keakraban. Sebagai dosen yang berasal dari praktisi public relation and marketing, saya selalu bisa membawakan materi dengan menyesuaikan audiens yang ada di hadapan saya. Ini penting untuk masuk ke alur fikiran mereka dan mempengaruhi mereka.
Celetukan menggoda dan jahil seringkali saya lontarkan manakala saya menyampaikan materi kepada mahasiswa-mahasiswi ini. Hati senang dan gembira mereka seolah menjadi pintu yang terbuka seluas-luasnya dan memberikan kesempatan kepada saya untuk masuk kedalam alam fikir mereka dan berempati kepada mereka.
Bicara mengenai empati, kita semua pernah berada dalam usia mereka. Lulus dari perguruan tinggi di kisaran usia antara 21-24 tahun (yang lebih tua dari pada angka itu berarti termasuk Mapala-Mahasiswa Paling Lama.. wkwkwkkk), bingung menentukan pekerjaan dan perusahaan apa yang akan mereka masuki, bingung menentukan arah karier yang diinginkan (yang penting kerja aja dulu enggak jadi pengangguran bla bla bla…), hingga bingung karena enggak ada lagi alasan ke orang tua untuk minta uang jajan, dan ketakutan-ketakutan lain. Dengan nada bercanda dan menghibur saya ulas ketakutan mereka satu persatu sambil membayangkan diri saya berada diantara mereka puluhan tahun yang lampau. Saya memahami mereka sepenuhnya. Rasa sayang saya sebagai pendidik benar-benar terasa manakala siap melepas mereka pergi. *ngelapairmatadaningus
Saya menikmati suasana ini…
Sebagian besar mahasiswa yang ada di depanku ini adalah anak-anak yang kreatif dan aktif sebagai pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Mereka sudah sangat sering menyelenggarakan sebuah acara di kampus dan di luar kampus, hal mana ini merupakan sebuah kebanggaan bagiku karena mereka pasti memiliki kemampuan soft skill yang baik  untuk bekerja dalam sebuah tim. Terbiasa berkoordinasi antar orang per orang, terbiasa melontarkan ide dan menerima ide orang lain.
Harapannya, ketika mereka menguasai hal ini maka ketika berkarier, maka mereka akan menjadi karyawan-karyawan yang rising star dan jika mereka berbisnis maka mereka bisa menjadi leader dalam bisnis yang mereka geluti. Amien..
Harapanku mungkin terlalu banyak kepada bocah-bocah berisik yang ada didepan saya ini.. tiba-tiba saya terfikir. Apa yang menjadi harapan mereka terhadap kampus ini?
“Saya berharap semoga ilmu yang saya terima  baik secara formal akademis maupun non akademis bermanfaat manakala saya sudah bekerja nanti Bu..” ujar Medy, dia mantan ketua UKM Fotografi.
“Saya sangat berharap kampus ini akan terus berkembang dan menjadi satu-satunya kampus swasta yang menjadi tujuan anak-anak SMA/K di provinsi ini . Selain itu pengembangan kualitas kurikulum dan tenaga pengajar juga sangat kami harapkan mengingat kampus ini saat ini sudah jauh lebih besar dan maju (narsis :D) , dibandingkan empat tahun lalu kami masuk kesini. Semakin besar, maka semakin tinggi lah pengharapan masyarakat terhadap kampus ini. Oleh karena itu tak ada pilihan lain selain terus meningkatkan kualitas kurikulum dan tenaga pengajar,” demikian diuraikan oleh Hendarto. Seorang politikus kampus yang pernah menjadi presiden BEM.
Selain Medy dan Hendarto, masih ada 10 orang mahasiswa lain yang saya mintai komentar mengenai harapan mereka. Dan ke-10 nya mendapatkan bingkisan goody bag isi agenda, pena, mug, jam dinding yang mereka terima dengan lapang hati dan senyum lebar alias big grin.. (hallahhh.. keluar topik banget sih..!!!) hihihiii…
Baiklah kembali ke topik utama  tulisan ini. Sesuai dengan temanya, yakni Harapan, maka bisa dipetik satu simpulan. Mahasiswa saya yang siap jadi alumni memiliki harapan terhadap kampus tempat saya mengajar. Saya pun juga memiliki harapan tinggi bahwa mereka bisa menjadi alumni yang membanggakan sehingga bisa menjadi perpanjangan marketing word to mouth yang baik ke semua orang . Alumni adalah bukti nyata apakah sebuah perguruan tinggi mampu mewujudkan harapan masyarakat akan penyelenggaraan pendidikan tinggi yang berkualitas.  Semakin banyak alumni yang berhasil (baik bekerja di perusahaan maupun membuka lapangan usaha sendiri), maka semakin harum lah nama perguruan tinggi tersebut.
Jika benang merah ini ditarik menjadi hubungan yang terbangun diantara dua orang (perempuan :D )tentu saja satu pihak memiliki harapan yang digantungkan kepada pihak lainnya. Contoh… ketika saya mencari perempuan yang tepat, saya tentu berharap banyak kepadanya. Pun begitu pula sebaliknya. Tidak usah dijabarkan terlalu jauh harapan yang diinginkan oleh kedua orang perempuan terhadap pasangannya masing-masing karena semua perempuan pasti berharap hal yang sama (cinta, kasih, sayang, perhatian, dll… tambahkan sendiri ya.. :D ). Maka jika satu pihak tak lagi bisa memberikan atau bahkan menjanjikan harapan  yang diinginkan oleh pasangannya, maka tak usah berlama-lama. Akhiri saja hubungan itu.
Mari saya beri tahu satu hal.. Saya sangat patuh terhadap sebuah ungkapan “Jika kau menggantungkan harapan dan kebahagiaanmu pada orang lain.. Maka bersiaplah untuk kecewa,” .  Karena itu, bangunlah harapan dan kebahagiaanmu sendiri. Jika ditengah-tengah proses itu kau bertemu dengan perempuan yang tepat  dan sesuai dengan yang kamu inginkan,  Maka anggaplah itu bonus yang diberikan Sang Pemilik Kehidupan ini untuk memberi warna dalam hidup yang kau jalani. (adeliawinter)

Selasa, 07 Mei 2013

Menunggu

Seorang diri di ruangan kantor. Aku menunggu seorang tamu. Dia psikolog terkenal di kota ini. Kami memintanya bergabung untuk menjadi konselor tamu sekaligus memperkuat tim di human resourch department sebagai konsultan pemetaan arah karier bagi rekan-rekan dan karyawan yang sudah matang. Dalam 10 tahun terakhir ini perguruan tinggi tempat aku bertugas terus tumbuh dan berkembang. Dan karena ada regulasi yang mengatur bahwa tenaga pengajar yang masih berpendidikan strata satu (S1), tidak boleh lagi mengajar mahasiswa S1 pada tahun 2014 mendatang , maka beramai-ramai lah rekan dosen mengajukan diri untuk kuliah kembali dan meningkatkan kompetensi dengan menempuh pendidikan strata 2 (S2).
Demam S2 ini ternyata berimbas pada karyawan-karyawan pula. Karena 60 % karyawan struktural adalah juga dosen, maka pada tahun-tahun mendatang akan ada tambahan pegawai struktural dengan gelar S2 dibelakang namanya. Mereka mau diapakan? Selain dioptimalkan sebagai dosen, inginnya tentu saja jenjang karier mereka akan naik seiring dengan kompetensi yang mereka miliki. Ambil kasus, seorang sarjana ekonomi (SE), mengambil S2 bidang Marketing, maka akan ada Magister Manajemen (Marketing), yang akan muncul di kampus ini. Jika diawal mereka hanya dioptimalkan sebagai dosen dan staff marketing, maka otomatis, PR besarnya adalah bagaimana mereka dipromosikan sebagai atasannya staff (katakanlah supervisor, kepala bagian, atau kepala biro marketing). Namun, atasan mereka sudah terlebih dahulu “bercokol” di tempat itu ternyata bergelar Sarjana Komputer, yang (dulunya) mereka nganclong di divisi marketing semata-mata karena belajar marketing secara otodidak, harus diapakan???. Jika si sarjana komputer ini ingin ditempatkan sesuai dengan kompetensinya, maka permasalahannya ternyata sudah ada yang menempati posisi tersebut (katakanlah posisi kepala bagian ICT Centre).
Pemindahan (mutasi, promosi, demosi), dll adalah hal yang biasa di perusahaan manapun. Namun entah kenapa, kadang-kadang aku melihat, di dunia pendidikan, pemindahan pejabat adalah sesuatu yang “tidak populer”. Mungkin ini lebih disebabkan budaya “tidak enak hati”. Kami berasal dari sebuah lembaga pendidikan kecil, yang karena concern terhadap mutu pendidikan, dan dicintai masyarakat tempat kami berdomisili (narsis.. :D) sehingga budaya “tidak enak hati” terus bercokol dalam benak kami. Orang-orang “lama” dan dikategorikan sebagai “perintis”, adalah JIMAT untuk kami dan biasanya memang susah sekali digeser karena rasa tidak enak hati tadi. Selain itu karena memang mereka bekerjanya professional dan menggunakan hati juga. Hal mana, mempergunakan hati adalah sesuatu yang sangat diharapkan di sebuah lembaga pendidikan, maka makin susahnya memetakan mereka harus berada dimana. (Oya, bagi yang enggak paham arti jimat, silahkan googling ya.. :D)
Naahhh… ribet dan melebihi benang kusut jadinya kan??
Untung itulah kita memerlukan seorang psikolog yang mumpuni di HRD untuk memetakan arah karier dengan mengadakan semacam psikotes blab la bla.. Selain itu karena di kampus kami ini ada sebuah biro yang membawahi bidang konseling mahasiswa, maka kami juga ingin sesekali mahasiswa yang memiliki masalah berat baik bersifat akademik maupun non akademik bisa berkonsultasi langsung dengan psikolog ini. Harapannya mahasiswa menjadi lebih puas karena bisa menemukan problem solving yang tepat untuk masalah-masalahnya. Dari sisi cost, akan sangat hemat manakala mahasiswa ini mempergunakan psikolog yang memang sudah dibayar oleh lembaga pendidikan kami ini.
Dan kembali lagi ke topik menunggu…
 Menunggu adalah sesuatu yang menjemukan. Namun ternyata jika disikapi dengan bijak, menunggu bisa menjadi sebuah ruang kosong diantara ruang dan waktu yang sibuk yang ternyata membawa manfaat untuk kita. Kita memiliki jeda untuk memikirkan hal-hal baru dan kreatif, serta melakukan pekerjaan lainnya. Inilah yang aku lakukan sembari menunggu si psikolog tersebut : Pengembangan konsep penciptaan mahasiswa dan alumni menjadi young entrepreneur aku lakukan dalam coret-coretan di agenda aku hanya 10 menit , menyelesaikan 10 dokumen disposisi dalam jangka waktu 20 menit, menandatangani berkas-berkas yang diletakkan oleh sekretarisku sejak beberapa hari lalu 5 menit, juga menandatangani sertifikat kegiatan pelatihan yang diadakan oleh mahasiswa selama 10 menit. Total waktu menunggu aku sementara ini 45 menit. Lumayan lama dan menjemukan jika aku hanya duduk-duduk berpangku tangan saja.
Itulah esensi menunggu yang bermanfaat…
Dan… aku juga sedang menerapkan proses menunggu ini di hatiku..
Aku menunggu perempuan yang paling tepat untuk hadir di dalam hatiku sejak tiga tahun lalu setelah hubunganku dengan partner berakhir di tahun ajaran 2009/2010 (dosen banget!!!). Selama tiga tahun itu, aku menunggu perempuan yang tepat sambil kuliah lagi, memetakan dan meraih jenjang karier yang aku inginkan. Hingga tibalah saat dimana aku memiliki partner baru di tahun 2013. Namun sayangnya hanya bertahan beberapa bulan saja karena ternyata kami tidak cocok satu sama lain (baca blog-blog aku yang mellow sebelum tulisan ini :D).
Dan tak ada pilihan lain… aku harus menunggu untuk memulihkan hati. Dan seperti kebiasaan yang sudah-sudah, aku sangat bersabar untuk menunggu. Karena aku bukan tipikal perempuan yang selalu tergesa-gesa dalam menentukan langkah.
Perempuan cantik yang dihadiahkan Tuhan untukku.. Siapapun kamu.. Aku bersedia menunggu untuk kehadiran kamu. Aku berharap ketika waktu-waktu menunggu ini berakhir, maka aku akan menemukan kamu dengan penuh kesabaran membimbingku, memberikan kenyamanan yang aku inginkan, menjadi teman dalam berdiskusi dan bercerita tentang banyak hal, menjadi pelipur lara , menjadi orang yang melihatku apa adanya tanpa “topeng”, menjadi teman cerita keseharianku yang harus selalu menahan diri didepan suami dan menampilkan kesan baik-baik saja kepada anak perempuanku.
Perempuan yang bisa menjadi pelabuhan hati. Tempat aku melabuhkan penat. Tempat aku bermanja dan menyalurkan naluri ingin memanjakan perempuan lain. Perempuan yang bersukacita menyediakan bahu untuk menangis sekaligus meminjam jemariku untuk mengusap air matanya karena aku tahu perempuan lesbian adalah makhluk yang paling sering menangis sedih karena harus menahan diri karena predikat lesbian yang harus disandangnya..
Aku bersedia menunggu untuk kamu wahai perempuan yang dihadiahkan Tuhan….
Hmmm… si psikolog sudah datang. Total menunggu sekitar 70 menit. Beberapa pekerjaan dan satu tulisan yang siap diposting di blog sudah aku selesaikan. :D (AW)

Senin, 06 Mei 2013

Tak Ada Pesta yang Tak Usai

Pesta itu usai sudah.. Membawa kenangan yang tak terlukiskan oleh kata-kata.. meski ber paragrap-paragrap.. Atau bahkan satu bab atau satu judul buku sekalipun... Karena disini.. didalam hati.. tertoreh rasa sakit luar biasa.. membuat air mata kembali berderai.. Sama seperti yang lalu.. Perpisahan ini meninggalkan duka.. Mungkin aku harus banyak belajar.. dari cerita-cerita yang telah lalu.. Belajar bahwa tak semua ingin menjadi nyata.. Tak semua mimpi bisa kugenggam.. Aku menyusut tangis disini.. Dengan tangan dan jemari ku sendiri. Dari semula tiada menjadi ada.. Dari semula ada menjadi tiada..

Mickey Mouse VS Donald Duck

                Ini catatan random. Saya tulis tergesa-gesa di suatu pagi sepi di ruangan kantor. Tiba-tiba saya teringat dengan Nita. Sahabat hetero yang saat ini bertugas di luar provinsi tempat saya berdomisili. Beberapa bulan lalu kita berdua duduk di pojokan dapur rumahku. Sambil menyesap kopi kental tidak begitu manis dan beberapa batang rokok, kami membicarakan banyak hal. Tentang hidup yang kadang kala tak bersahabat pada kita. Betapa tidak berkuasanya kita dengan hidup dan takdir yang kita miliki. Tidak semua keinginan kita diwujudkan oleh Tuhan, meskipun sebagai penghiburan hati, atau memang sudah selayaknya kita berfikir seperti itu, bahwa Tuhan akan selalu menjawab doa-doa kita dengan cara yang menurut_Nya sangat tepat. Keterbatasan kita sebagai manusia lah yang menyebabkan kita berfikir bahwa takdir Tuhan kadang menjadi sangat tidak adil untuk kita yang penuh dengan keterbatasan ini.
                Pembicaraan terus bergulir. Diselingi dengan seruputan kopi. Hisapan rokok, dan tentu saja tawa miris yang kita kamuflasekan dengan tertawa terbahak-bahak.
“Loe suka Mickey Mouse apa Donald Duck?” ujar Nita tiba-tiba.
“Donald,” jawab saya cepat tanpa berfikir lagi. Saya memang sangat menyukai Donald. Suaranya yang khas bebek dan tingkah lucunya membuat saya terbahak-bahak ketika menyaksikan dia sedang beraksi.
“Gw juga suka ama Donald. Dan benci banget sama Mickey,” kata Nita lagi.
“Iyaa.. Gw sebel juga tuh sama Mickey Mouse. Sok tua, sok bijak. Dan agak belagu untuk ukuran tikus. Satu-satunya tikus yang gw suka adalah tikus tukang masak di film Rattatouile (maaf kalo ejaannya salah!). dia tikus yang apa adanya dan rendah hati. Hahahhaaaa…,” kata saya sambil membayangkan si tikus memasak.
“Kira-kira apa yang menyebabkan kita enggak suka Mickey?”
“Entahlah.. Mungkin karena Mickey itu tikus yang identik dengan sesuatu yang kotor, suka menyelinap di dalam rumah, keluar masuk got. Intinya dia jorok dan nyebelin  tapi dicitrakan dalam bentuk yang bijak dan menyenangkan. Tetap saja tidak bisa membuat kita jatuh cinta,” kata saya.
“Menurut gw bukan begitu. Mickey tuh sosok seekor tikus yang selalu beruntung dan cerminan sosok yang benar-benar ideal. Dia memiliki kehidupan yang baik. Pacar (Minnie Mouse) yang cantik dan setia, kehidupan sosial yang baik, diterima di semua kalangan (teman dekat bagi goofy dan tokoh-tokoh Walt Disney lainnya), dan selalu saja memiliki takdir baik, semua urusannya lancar dan dimudahkan. Bandingkan dengan si Donald Duck. Udah lah hidup dengan tiga keponakan yang bandel-bandel, punya paman yang kaya raya tapi pelitnya audzubillah.. . Terus sepanjang hidupnya selalu saja ada kesialan-kesialan yang tidak mampu dia hindari. Punya simpanan biji kenari, pake dicuri lah sama dua tupai. Trusss.. apesnya, punya pacar si Desy Bebek yang kadang-kadang flirting dengan si Untung, rivalnya Donald. Hidup terasa sangat berat bagi Donald,” demikian penjelasan Nita  panjang lebar.
Aku mulai memasuki alur fikiran Nita. Merenung sebentar sambil senyum-senyum, karena betapa kita seriusnya berbicara mengenai tikus dan bebek (jangan sampai mahasiswaku membaca mengenai bahasan tikus dan bebek ini :D ) . Namun.. lama-lama difikir Nita sepenuhnya benar.
Kita menyukai seseorang kadang-kadang lebih karena empati atau karena kehidupan seseorang itu begitu identik dengan kita. Siapa sih manusia yang dalam hidupnya selalu aja beruntung..? hampir tidak ada. Donald mewakili manusia yang penuh dengan keterbatasan, ketidakberuntungan, dan nasib baik yang berjalan berimbang. Hari ini senang, besok sedih, lusa tertawa, hari setelah lusa kita bisa saja menangis karena sesuatu dan lain hal yang terjadi dalam hidup kita.  
Donald adalah bebek yang “manusiawi” sekali.
Bandingkan dengan Mickey yang benar-benar tidak “manusiawi”. Mickey adalah gambaran keberuntungan hidup bertubi-tubi yang nyaris tidak bisa disamakan oleh nasib manusia yang up and down.  Mickey adalah tempat dimana manusia akan berkata bahwa hidup baik-baik saja dan berjalan sesuai dengan rel yang diinginkan. Tapi kenyataannya tidak begitu. Manusia kadang menyerah dan takluk pada qada dan qadar yang telah digariskan Allah dengan cara-Nya untuk maksud tertentu. Lalu serta merta aku dan Nita menjadi sebal setengah mati sama si Mickey ini. Karena hidup kami berdua tidak lah seindah hidup Mickey yang baik-baik saja.
Kami berjuang. Kami memenangkan pertarungan hari ini dan menutup hari dengan tertawa. Kami menangis di hari lain meratapi sesuatu yang menyedihkan hati. Teruuussss begitu… siklus berulang yang saya dan Nita hadapi.
Tapi apapun. Hidup terus berjalan. Tidak menyerah kepada apa yang sudah digariskan Tuhan dalam takdir yang ditasbihkan menjadi milik kita diatas dunia. Seperti juga Donald yang tetap saja berani hidup dan mengejar-ngejar dua tupai yang suka mencuri, berani marah-marah dengan 3 keponakannya, dan berani cheating dibelakang  Paman Gober, dan kadang-kadang jungkir balik memenangkan hati Desy bebek yang labil karena selalu diganggu oleh perhatian (uangnya) Untung. (AW)


Energi Positif

Dalam kehidupan yang kita jalani terkadang ada satu masa dimana kita sangat sibuk, kita sedang sedih, atau ketika kita sedang memikirkan segala sesuatu di dalam fikiran kita tentang apapun. Pada saat itu kita cenderung akan mengabaikan banyak hal di sekeliling kita. Kita pasti akan berkata, "Urusan aku saja sudah banyak.." . Lalu kita memilih untuk tidak mau tahu atau tidak mau komen.
Ini hal yang wajar sebenarnya, karena sebagai manusia yang penuh dengan keakuan,  Kita otomatis akan fokus kepada diri kita sendiri. Everythings should be about me.. Itulah yang menyebabkan kita lalu enggan untuk tahu dengan urusan orang lain manakala kita sedang sibuk dengan urusan kita sendiri.
Ini terjadi padaku.. Dua minggu ini aku sedang sedih. Hubunganku dengan partner memburuk. Dia mempermasalahkan status L mom yang tertera jelas di keningku. Dan aku dengan segala kesabaran dan kelegaan hati mencoba untuk mengikuti apa yang diinginkan. Memaksakan sebuah hubungan manakala satu pihak sudah tak nyaman lagi akan membawa ke sebuah hubungan yang sulit. Satu pihak akan merasa terpaksa sehingga memunculkan perilaku-perilaku yang tidak tulus, dan satu pihak lagi akan berada dalam posisi inferior karena harus terus "menjaga mood" diri sendiri dan pasangan. Kesalahan sedikit saja akan mengakibatkan partner yang "terpaksa" ini  berubah sikap. Dan seringkali sikapnya akan sangat mengganggu secara emosional.
Di tengah kesedihan ini, aku seperti berkubang sendiri dalam energi negatif. Menyalahkan diri sendiri mengapa jatuh cinta dengan partner, mengapa menyimpan harapan terlalu besar kepada partner akan hubungan jangka panjang, hingga membenci diri sendiri karena berani-beraninya L Mom seperti aku jatuh cinta dengan gold star lesbian yang aku sendiri tak bisa menjanjikan apa-apa untuk hubungan jangka panjang sementara dia memilih untuk tidak menikah.
Daftar salah menyalahkan ini belum selesai. Aku lalu menyalahkan partner, mengapa sedari dulu ketika tahu aku L Mom dia tidak mundur teratur saja, hingga menyalahkan dia karena masih menghubungi via sms dan telpon padahal sudah status "teman biasa".
Sungguh.. Energi negatif ini sangat mengganggu karena mempengaruhi mood kerja di kantor, hubungan dengan rekan kerja, dan yang paling fatal adalah hubungan dengan keluarga. Tiba-tiba aku menjadi sangat takut dengan energi negatif ini. Bagaimana membuat segala sesuatu menjadi baik?
Asam bisa dinetralkan dengan basa.. Energi negatif harusnya bisa dinetralkan dengan energi positif. Lalu mulailah aku melihat ke sekeliling.. Aku melihat langit pagi ini, tetap cerah ditaburi awan, matahari terbit dengan cantiknya, embun menguap pelan-pelan takluk pada sinar mentari..
Aku lihat status blackberry teman-teman dan keluarga.. Yang semuanya mencerminkan energi positif. Tidak peduli ada atau tidak adanya  masalah yang mendera hatiku.
"Ya Allah. Berikan kemudahan kepada adikku untuk menjalani test STIS di UII" , demikian  status Nana keponakanku yang kuliah di Jogja. Aku segera meneleponnya dan bertanya tentang adiknya. Pembicaraan antara tante dan keponakan ini berlangsung lumayan lama. Tentunya lengkap dengan petuah-petuah bijak yang ditanggapi positif oleh Nana.  Seusai bertelepon aku seperti mendapatkan energi baru.. Inilah energi positif itu!!!  Ketika kita menyalurkan energi negative menjadi energy positif maka akan menjadi suntikan energy untuk kita.
Di kantor, sekretarisku beberapa kali berbuat kesalahan. Dengan nada bijak dan santun aku sampaikan bahwa dia melakukan kesalahan kecil namun fatal karena terkait dengan pencitraan perusahaan kepada pihak luar. 15 menit bicara dengan sekretarisku untuk menyampaikan betapa pentingnya image bagi perusahaan jasa seperti tempatku bekerja ini. Dan syukur lah sekretarisku menerima dengan baik apa yang aku sampaikan dan mengucapkan terimakasih atas apa yang diarahkan kepadanya.
Tiga hari, aku melakukan hal yang sama. Mencoba menyalurkan energy negative berupa marah, kesal, kecewa, sedih, marah, kepada energy positif yang akhirnya membuka cakrawala fikirku, bahwa apapun masalah yang menderaku, tidak lah lebih baik dari pada nikmat Tuhan yang diberikan lewat orang-orang baik di sekelilingku, lingkungan kerja yang baik, keluarga kecil yang lengkap, dan nikmat rejeki lainnya.
Dan ajaibnya, pada hari keempat, aku merasakan perasaan ringaaaannn luar biasa…. Aku jadi berempati kepada partner atas apa yang telah menjadi keputusannya. Perasaan marah, kecewa, sedih, menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan partner, tidak lagi aku rasakan. Sebaliknya, aku merasakan kelegaan dan kelapangan hati atas apa yang  terjadi diantara kami. Aku mencoba memahaminya dari sudut pandang aku. Bahwa partner yang memang tidak memiliki keinginan untuk menikah akan lebih tepat manakala bertemu dengan orang yang juga memilih untuk tidak menikah. Mungkin saja di partner baru itu nantinya mau diajak untuk hidup bersama di kota asal partner.
Saat ini, dengan kedewasaan dan kelapangan hati, aku malah bisa menjadi teman baik pada partner. Ketika disuatu siang dia menelepon untuk bertanya kabar, dengan ringannya aku bertanya, “Kalau kamu sulit untuk mencari partner, maka aku dengan senang hati membantumu untuk mencari partner yang cocok dan sesuai dengan qualifikasi yang kamu inginkan,” ujarku. Eks partner lalu tertawa berderai (suara tawa yang sungguh masih sangat aku rindukan :D ).
Lalu mulailah dia menjelaskan perempuan yang dia inginkan , lengkap dengan statistik kisaran usia , tinggi badan, warna kulit, label, dan kriteria lainnya.
Aku tertawa.. dan mulai mencari siapa yang paling cocok untuk mendampingi eks partnerku. Jadi, kalau kau berusia antara 28 – 38 tahun, memiliki tinggi badan ± 160 an, berkulit sawo matang atau  kulit khas oriental, label andro, memilih untuk tidak menikah, L Mom yang sudah bercerai  , mungkin saja kau adalah partner yang terbaik bagi eks partnerku. Jika iya, maka kau bisa hubungi aku di adeliawinter@gmail.com.
Sekian dan terimakasih.. :D

Kamis, 02 Mei 2013

Menanti Sebuah Jawaban

by Padi.. Aku tak bisa luluhkan hatimu Dan aku tak bisa menyentuh cintamu Seiring jejak kakiku bergetar Aku tlah terpaut oleh cintamu Menelusup hariku dengan harapan Namun kau masih terdiam membisu Reff :Sepenuhnya aku ingin memelukmu Mendekap penuh harapan tuk mencintaimu Setulusnya aku akan terus menunggu Menanti sebuah jawaban tuk memilikimu Betapa pilunya rindu menusuk jiwaku Semoga kau tahu isi hatiku Dan seiring waktu yang terus berputar Aku masih terhanyut dalam mimpiku Back to Reff Aku tak bisa luluhkan hatimu Dan aku tak bisa menyentuh cintamu

Maka Selesailah Sudah

Maka selesailah sudah hiruk pikuk percintaanku. Berakhir begitu saja justru dengan tanda tanya besar besar yang menggantung di atas kepalaku. Ada apa? Sedari awal aku sudah mengatakan bahwa aku perempuan dengan suami dan anak. Memiliki ketertarikan dengan perempuan. Maka di keningku tertera dengan jelas bahwa predikatku adalah Lesbian Mommy. Waktu berjalan.. Tiba-tiba aku tersadar bahwa aku kembali ditinggalkan oleh orang yang membuat aku jatuh cinta karena kecerdasannya… Ditinggalkan karena aku adalah L Mom.. “Mengapa?” kataku dengan suara pelan melalui telepon yang menghubungkan dua pulau diantara kami. “Maaf aku salah.. Sejujurnya ternyata aku tidak sanggup untuk bukan menjadi orang yang utama dan satu-satunya. Maaf.. aku memang salah. Dari awal aku tahu kamu sudah berkeluarga.. Baiknya kita berteman saja. Belajar dari hubungan kita. Saranku biar sama-sama adil kalau kau mencari partner maka carilah yang sama-sama L Mom,” katanya menutup pembicaraan. Aku sempurna terdiam. Air mataku meleleh. Lalu dengan cepat aku mengetik sms yang kutujukan ke nomornya, “Terimakasih atas kebersamaan kita. Terimakasih atas kesediaanmu untuk datang ke hati dan kotaku. Mohon maaf jika begitu banyak kesalahan dan kekeliruan manakala aku berpartner denganmu. Semoga kau mendapatkan kebahagiaan dengan partner yang lain. Yang sesuai dengan apa yang menjadi keinginanmu,” SMS terkirim… Dan tak ada lagi balasan darinya… (adeliawinter)