Jujur. Aku bukan perempuan matre dan enggak mau dimatrein. Kenapa aku enggak mau jadi perempuan matre? karena aku tahu cari uang itu susaaahhh sekali, dan aku terbiasa membelanjakan uangku ke keperluan yang tepat dan sesuai budget yang aku miliki. Sedari kecil, seingatku, di usia 13 tahun aku sudah mulai bekerja membantu kedua orangtuaku di perusahaan kontraktor milik mereka. Dari mulai memfotokopi , menjilid penawaran proyek, hingga menjilid berlembar-lembar Rancangan Anggaran Biaya (RAB), untuk mempropose proyek pemerintah. Cuma jadi kroco aja sih... , karena tugas aku hanya memastikan lembar-lembar yang harus dijilid itu sesuai dengan urutan masing-masing. dari mulai HO, TDP, NPWP, RAB, dll.
Setiap kali musim tender proyek, aku mengantungi uang sebanyak Rp75 ribu. Di tahun itu, uang sebesar itu nilainya mungkin sama dengan Rp750.000,- sekarang. Uang itu kebanyakan aku belikan buku pelajaran, novel lima sekawan, atau Trio Detective. Harganya kalau tidak salah Rp1.250 perak.
Seiring perjalanan waktu, aku tumbuh menjadi anak yang mandiri. SMA, hingga kuliah aku makin terbiasa bekerja. Dari mulai bisnis ala anak kuliah, hingga menjadi photografer bagi cewek-cewek centil di kampus yang doyan foto. Zaman itu, belum ada kamera digital.. apalagi HP kamera. jadi semua dikerjakan dengan kamera SLR manual yang mengandalkan cahaya matahari. Hehehee..
Aku pernah memiliki seorang partner, dia juga memiliki semangat mencari uang yang sama dengan aku. Kita berdua punya kafe kecil untuk membiaya pengeluaran kita. Meskipun pada akhirnya kafe itu tutup seiring dengan tutupnya cerita tentang aku dan dia.
Nah.. kemarin.. Seorang teman baru sebut saja namanya Bunga (32thn), curhat mengenai eks partnernya. Dia mengaku dimatrein sama partnernya itu hingga merugi puluhan juta rupiah. Ckckckckkk...
Sampai akhirnya partnernya itu menikah dengan menggunakan aset yang dananya berasal dirinya.. Hmm...
Jumat, 24 Mei 2013
Selasa, 21 Mei 2013
We Could Be In Love
Be still my heart
Lately its mind is all its own
It would go far and wide
Just to be near you
Even the stars, shining up bright
I've noticed when you're close to me
Still it remains a mystery.
Refrain 1:
Anyone who's seen us
Knows what's goin' on between us
It doesn't take a genius
To read between the lines
And it's not just wishful thinking
Or only me who's dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love.
I ask myself why
I sleep like a baby through the night
Maybe it helps to know
You'll be there tomorrow
Don't open my eyes (ooh hoo-hoo)
I'll wake from the spell I'm under
Makes me wonder how (tell me how)
I could live without you now.
Refrain 2:
And what about the laughter
The happy ever after?
Like voices of sweet angels
Calling out our names
And it's not just wishful thinking
Or only me who's dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love.
Bridge:
All my life, I have dreamed of this
But I could not see your face
Don't ask why to such distant stars
Can fall right into place.
(Repeat Refrain 1 except last word)
...love.
Oh, it doesn't take a genius
To know what these are symptoms of
We could be, oh hoh we could be
We could be in love, we could be
We could be in love.
--- Lea Salonga ---
Lately its mind is all its own
It would go far and wide
Just to be near you
Even the stars, shining up bright
I've noticed when you're close to me
Still it remains a mystery.
Refrain 1:
Anyone who's seen us
Knows what's goin' on between us
It doesn't take a genius
To read between the lines
And it's not just wishful thinking
Or only me who's dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love.
I ask myself why
I sleep like a baby through the night
Maybe it helps to know
You'll be there tomorrow
Don't open my eyes (ooh hoo-hoo)
I'll wake from the spell I'm under
Makes me wonder how (tell me how)
I could live without you now.
Refrain 2:
And what about the laughter
The happy ever after?
Like voices of sweet angels
Calling out our names
And it's not just wishful thinking
Or only me who's dreaming
I know what these are symptoms of
We could be in love.
Bridge:
All my life, I have dreamed of this
But I could not see your face
Don't ask why to such distant stars
Can fall right into place.
(Repeat Refrain 1 except last word)
...love.
Oh, it doesn't take a genius
To know what these are symptoms of
We could be, oh hoh we could be
We could be in love, we could be
We could be in love.
--- Lea Salonga ---
Senin, 20 Mei 2013
Kita. Kamu dan Aku
Entahlah
Dengan bahasa apa kumaknai hubungan kita
Dari bermenit-menit bertukar sapa di telepon
Hingga ratusan aksara yang terkirim
Terus begitu disela-sela kesibukan kita
Ditengah rasa kantuk menyergap mata
Disamping seorang lelaki yang kusebut ayah anak-anakku..
Aku memujamu..
Kau juga tak pernah sanggup kehilangan aku
Tapi kita sudah tetapkan hati
Untuk tidak lagi saling jatuh cinta
Aku bukan takdirmu
Katamu pada suatu malam
Aku diam saja..
Kau boleh narasikan apa saja untuk memaknai KITA
Tapi aku…
Aku maknai KAU hanya sekedar datang di dalam hidupku
sebentar saja
Sebagai kekasih, lalu teman.. dan kini SAHABAT..
Terimakasih untuk kebersamaan kita..
Kamis, 16 Mei 2013
Perempuan Yang Memanggilku Madu
Kau lah perempuan itu..
Yang kerap memanggilku madu..
Meskipun aku bernama..
Madu menjadi cukuplah bagimu untuk memaknaiku..
Rabu, 15 Mei 2013
Perempuan Dalam Gerimis
Aku melihatnya...
Perempuan dalam gerimis..
lengkap dengan senyum di ujung bibir..
Kali kedua yang tetap memesonaku..
Perempuan berkerudung yang payudaranya penuh..
Pernah menjadi milikku dalam separuh perjalanan waktu
Pada mentari sore siap terbenam
Hingga gemintang menjadi penghias langit malam..
Dia ..., aku serahkan pada takdir..
Untuk berjudi dengan masa depan..
Lalu datang kembali..
tetap dengan payudara dan kulit pualam yang sama..
Seorang bocah kecil menetek disana..
Kamis, 09 Mei 2013
Kepadamu Laut..
Aku labuhkan penatku pada gelombang yang sepenuhnya menjadi
milikmu..
Pada riak air sisa gelombang yang tak henti berlomba
mencapai pantai..
Aku terombang-ambing dan terhempas pada satu waktu
Aku lelah..
Izinkan aku melihat dari tepi saja..
Sambil bermain dengan pasir pantaimu..
Untuk kutorehkan sebuah nama disana..
Biarlah kau dan gelombang pasangmu yang akan menghapusnya..
Meski diam-diam.. aku ukir lagi sebuah nama yang sama disana..
Entah sampai Kapan… :’(
Rabu, 08 Mei 2013
Naya Si Gigi Ompong
Nayara, anak perempuanku menginjak usia 6 tahun. Gigi susunya sudah goyah dan siap-siap tanggal. Pada suatu hari, Aku menelepon dokter gigi dan membuat janji pertemuan. Namun terpaksa aku batalkan karena Naya menolak untuk diajak ke dokter gigi.
Gigi yang paling goyah adalah gigi susu depan dibagian atas. Sudah tinggal ditarik sedikiiittt saja rasanya gigi itu bakalan copot tanpa perlu bantuan alat-alat dokter gigi..
Pada suatu malam.. Ketika sedang asyik-asyiknya bercerita dengan Naya, tiba-tiba dia memegang giginya.
"Mamaa.. Gigi aku berdarah," ujarnya panik. Aku tenang-tenang saja dan memintanya untuk membuka mulutnya lebar-lebar. Darah merembes keluar dari giginya yang goyah.
Aku segera mengambil kapas dan tissue kemudian mengelap rembesan darah tersebut. Lalu dengan sangat perlahan aku dorong gigi yang goyah tersebut kearah luar. Aku tekan sedikit, lalu tiba-tiba gigi tersebut langsung copot. Tentu saja disertai dengan darah yang langsung membanjiri kapas dan tissue ditangan saya.
Naya seketika panik dan menangis. Dan berkata bahwa dia malu bergigi ompong. Takut diejek oleh teman-temannya.
"Semua orang akan mengalami saat-saat copot gigi dalam hidupnya, Nak.. Jadi ini sesuatu yang biasa.. Nanti akan ada pengganti gigi yang baru. Lihat saja teman-teman Naya yang giginya ompong, dalam waktu satu bulan sudah diganti sama Allah dengan gigi yang lebih bagus..," ujarku menenangkan Naya.
Alhasil selesailah tugasku sebagai ibu yang berperan sebagai dokter gigi. Rembesan darah sudah berhenti dan Naya sibuk mematut-matut diri di depan cermin menikmati bentuk baru senyumannya yang dihiasi gigi ompong.
"Ma.. Rasanya ada yang aneh lohh.." katanya tiba-tiba.
"aneh gimana!" tanyaku sambil mengernyitkan kening.
"tadinya kalau Naya gerakkan lidah ke arah gigi depan, ada gigi goyang disini," kata Naya sambil menunjuk ompongnya, "sekarang sudah tidak ada lagi giginya, jadi terasa aneh. Kayaknya kosong begitu kalo Naya gerakkan lidah.. tumbuhnya berapa lama Ma?"
"satu bulan lebih sedikit sudah akan ada pengganti gigi yang baru," kataku menenangkannya. Naya manggut-manggut.
"Jika sesuatu tadinya ada kemudian tidak ada memang akan begitu rasanya. Lidah Naya sudah terbiasa menyentuh gigi goyang disana. Namun sekarang giginya sudah tidak ada. Wajar jika merasa sedikit aneh. Pun begitu pula jika Naya punya teman. Contohnya teman akrab Naya yang namanya Fitri. Ketika Fitri ada, Naya merasa senang meskipun kadang-kadang kalian berdua suka berantem dan berebut mainan.. Tapi begitu Fitri pulang, Naya akan merasa kehilangan dan sedih.. Begitu nggak rasanya?" ulasku panjang lebar.
Naya mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Iya, kemarin habis berantem sama Fitri gara-gara main congklak. Sorenya Naya kerumah Fitri dan minta maaf. Terus kita temanan lagi Ma.." jawab Naya. Aku tertawa dan mengacak rambutnya.
"Begitulah berteman Nak.. Kadang kau merasa tidak pas dengan temanmu. Maka bertoleransi lah. Tetap sayangi teman kamu karena tanpa teman hidupmu akan terasa sepi.."
Demi menghibur hatinya, aku terapkan gaya Mamiku (alm) , ketika anak-anaknya tanggal gigi.. Aku letakkan gigi susu Naya dibawah bantalnya. Lalu kami sama-sama berdoa agar Allah memberikan kesehatan dan gigi pengganti yang bagus untuk Naya.
"Tapi kenapa diletakkan dibawah bantal Ma?"
"Agar peri gigi datang dan mengamini doa kita. Peri gigi akan berdoa juga kepada Allah untuk mengganti gigi Naya dengan segera."
Naya tersenyum dan dengan semangat meletakkan gigi itu dibawah bantalnya.
Tak begitu lama, Naya tertidur. Di bibirnya seulas senyum terukir. Senyum yang dia persembahkan untuk si peri gigi. (adeliawinter)
Gigi yang paling goyah adalah gigi susu depan dibagian atas. Sudah tinggal ditarik sedikiiittt saja rasanya gigi itu bakalan copot tanpa perlu bantuan alat-alat dokter gigi..
Pada suatu malam.. Ketika sedang asyik-asyiknya bercerita dengan Naya, tiba-tiba dia memegang giginya.
"Mamaa.. Gigi aku berdarah," ujarnya panik. Aku tenang-tenang saja dan memintanya untuk membuka mulutnya lebar-lebar. Darah merembes keluar dari giginya yang goyah.
Aku segera mengambil kapas dan tissue kemudian mengelap rembesan darah tersebut. Lalu dengan sangat perlahan aku dorong gigi yang goyah tersebut kearah luar. Aku tekan sedikit, lalu tiba-tiba gigi tersebut langsung copot. Tentu saja disertai dengan darah yang langsung membanjiri kapas dan tissue ditangan saya.
Naya seketika panik dan menangis. Dan berkata bahwa dia malu bergigi ompong. Takut diejek oleh teman-temannya.
"Semua orang akan mengalami saat-saat copot gigi dalam hidupnya, Nak.. Jadi ini sesuatu yang biasa.. Nanti akan ada pengganti gigi yang baru. Lihat saja teman-teman Naya yang giginya ompong, dalam waktu satu bulan sudah diganti sama Allah dengan gigi yang lebih bagus..," ujarku menenangkan Naya.
Alhasil selesailah tugasku sebagai ibu yang berperan sebagai dokter gigi. Rembesan darah sudah berhenti dan Naya sibuk mematut-matut diri di depan cermin menikmati bentuk baru senyumannya yang dihiasi gigi ompong.
"Ma.. Rasanya ada yang aneh lohh.." katanya tiba-tiba.
"aneh gimana!" tanyaku sambil mengernyitkan kening.
"tadinya kalau Naya gerakkan lidah ke arah gigi depan, ada gigi goyang disini," kata Naya sambil menunjuk ompongnya, "sekarang sudah tidak ada lagi giginya, jadi terasa aneh. Kayaknya kosong begitu kalo Naya gerakkan lidah.. tumbuhnya berapa lama Ma?"
"satu bulan lebih sedikit sudah akan ada pengganti gigi yang baru," kataku menenangkannya. Naya manggut-manggut.
"Jika sesuatu tadinya ada kemudian tidak ada memang akan begitu rasanya. Lidah Naya sudah terbiasa menyentuh gigi goyang disana. Namun sekarang giginya sudah tidak ada. Wajar jika merasa sedikit aneh. Pun begitu pula jika Naya punya teman. Contohnya teman akrab Naya yang namanya Fitri. Ketika Fitri ada, Naya merasa senang meskipun kadang-kadang kalian berdua suka berantem dan berebut mainan.. Tapi begitu Fitri pulang, Naya akan merasa kehilangan dan sedih.. Begitu nggak rasanya?" ulasku panjang lebar.
Naya mengangguk-angguk sambil tersenyum. "Iya, kemarin habis berantem sama Fitri gara-gara main congklak. Sorenya Naya kerumah Fitri dan minta maaf. Terus kita temanan lagi Ma.." jawab Naya. Aku tertawa dan mengacak rambutnya.
"Begitulah berteman Nak.. Kadang kau merasa tidak pas dengan temanmu. Maka bertoleransi lah. Tetap sayangi teman kamu karena tanpa teman hidupmu akan terasa sepi.."
Demi menghibur hatinya, aku terapkan gaya Mamiku (alm) , ketika anak-anaknya tanggal gigi.. Aku letakkan gigi susu Naya dibawah bantalnya. Lalu kami sama-sama berdoa agar Allah memberikan kesehatan dan gigi pengganti yang bagus untuk Naya.
"Tapi kenapa diletakkan dibawah bantal Ma?"
"Agar peri gigi datang dan mengamini doa kita. Peri gigi akan berdoa juga kepada Allah untuk mengganti gigi Naya dengan segera."
Naya tersenyum dan dengan semangat meletakkan gigi itu dibawah bantalnya.
Tak begitu lama, Naya tertidur. Di bibirnya seulas senyum terukir. Senyum yang dia persembahkan untuk si peri gigi. (adeliawinter)
Langganan:
Postingan (Atom)





